Apa yang keluar dari mulut kita, secara alamiah dan sukarela, pada dasarnya adalah cerminan murni isi jiwa kita sendiri. Ia merefleksikan apa yang mejadi kecenderungan diri kita, baik dalam waktu sesaat maupun berkelanjutan. Ia bisa jadi menggambarkan segala rasa cinta maupun benci, memperlihatkan seluruh harapan maupun kecemasan, menyingkap sekian banyak rahasia dan misteri.
Oleh karenanya, Allah memberitahu kita, bahwa kemunafikan yang sebenarnya sangat tersembunyi di dasar hati pun dapat dilacar dari kata-kata dan tema pembicaraan seseorang. Allah berfirman,
Tampilkan postingan dengan label Majalah Suara Hidayatullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Majalah Suara Hidayatullah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 11 Desember 2015
Senin, 07 September 2015
Selarik Pinta kepada Allah Ta'ala (Lanjutan - Selesai)
Betapa pun kita mengetahui dengan baik dengan memahami secara mendalam betapa pertolongan Allah Ta’ala sangat dekat, juga betapa bersama satu kesulitan ada berbagai kemudahan, tak akan ringan hati kita menghadapinya jika tak meyakini. Sangat berbeda antara tahu, paham dan yakin. Alangkah banyak orang yang memahami dan mampu menjelaskan dengan baik, tapi tak ada keyakinan dalam dirinya sehingga musibah dunia yang kecil saja sudah sanggup mengguncangkan jiwanya.
Jadi,
Jumat, 04 September 2015
Selarik Pinta kepada Allah Ta'ala
Ada do'a yang diajarkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Inilah do'a yang sepatutnya kita memohonkan kepada Allah subhaanahu wa ta'ala sepenuh pengharapan seraya menghayati maknanya. Alangkah banyak do'a yang terucap secara lisan, namun manusia tak menyadari apa yang ia minta, tidak pula mengambil pelajaran darinya. Do'a yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam itu adalah :
Jumat, 24 Juli 2015
Bila Ramadhan Telah Usai
Di bulan Ramadhan, rumah-rumah Allah ramai dikunjungi, al-Qur'an dibaca kembali anak-anak yatim terkunjungi, kaum fakir tersantuni, tempat maksiat menutup diri, penyiar dan pelawak di televisi pun dijilbabi.
Kini masjid-masjid itu kembali sepi, karena para jamaahnya telah pindah lokasi. Imam para jamaahnya pun telah berganti menjadi pesawat televisi. Lihatlah, para jamaahnya tak lagi menata shafnya di masjid, tapi sibuk berkerumun di hadapan imamnya, menikmati sinetron-sinetron picisan. Jilbab-jilbab para pemainnya telah dilipat dalam lemari, untuk dikenakan entah kapan lagi.
Jumat, 03 April 2015
Cara Cantik Menyikapi Kritik
Pada abad 18 H, bencana kelaparan hebat melanda wilayah Arabia Utara. Khalifah 'Umar Rhadiyallahu 'anhu melewati hari-harinya tanpa istirahat dan tidak bisa tidur memikirkan cara menanggulangi bencana tersebut. Ia bersumpah tidak akan menyentuh susu dan mentega sampai kelaparan barakhir.
Bencana itu disusul dengan wabah sampar mematikan yang menyebar di Syam. 'Umar mengambil untanya dan berangkat ke daerah itu untuk melihat langsung kondisi rakyatnya.
Langganan:
Postingan (Atom)