Tampilkan postingan dengan label Masjid Al Akbar Surabaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid Al Akbar Surabaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 April 2016

Allah Mengetahui Semua Rahasia

Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain kepada orang yang merencanakannya sendiri .( Fathir (35) :43 )

Tidak semua amal yang baik mendapatkan nilai kebaikan. Hanya kebaikan yang direncanakan demi untuk kebaikan saja yang bernilai kebaikan di sisi Allah. Sedangkan kebaikan yang di tampakkan untuk menyembunyikan kejahatan akan berbalas kejahatan pula.

Itulah hikmah terbesar dari ajaran Islam, mengapa suatu amal kebaikan tidak langsung mendapat pahala. Disana masih harus di teliti terlebih dahulu ,apakah amal tersebut betul-betul diniatkan untuk kebaikan ?

Ketika seorang tokoh politik atau satu partai di DPR menolak usul kenaikan BBM dengan retorika demi melindungi rakyat , Allah tidak segera mencatat penolakannya tersebut sebagai amal kebaikan .Allah juga tidak segera mencatatkan sebagai pahala atas perjuangannya. Allah masih melihat terlebih dahulu

Jumat, 19 Februari 2016

Kesehatan Jasmani dan Rohani


Oleh KH. Ali Maschan Moesa, 
Dakwah Jum'at Al-Akbar Edisi 274 | 11 Maret 2016

Berbicara kesehatan jasmani dan rohani, pada dasarnya sudah berbicara hakekat ajaran Islam, yakni rahmatan lil aalamiin (rahmat bagi seluruh alam). Dari kitab tafsir yang ada, yang dimaksud rahmatan lil aalamiin ada tiga hal. Pertama, an yakuuna kullu fardin mashdara lil khairin li jamaa’atihi (agar masing-mmasing pribadi, menjadi sumber kebaikan bagi kelompoknya). Kedua, iqaamatul 'adaalah (menegakkan keadilan). Pada umumnya mayoritas bicara menegakkan hukum, tetapi dalam kontek Islam penegakan hukum itu alat, instrument untuk mewujudkan suatu keadilan. Sebab bisa saja penegakan hukum itu justeru bertujuan penghianatan terhadap hukum. Sebab itu Rasulullah SAW mengingatkan, bahwa orang yang bekerja di ranah hukum harus hati-hati, karena hakim ada tiga, yang satu masuk surga, sedang yang dua masuk neraka. Ketiga, tahqiiqul mashlahah (mewujudkan kemaslahatan). Dari ketiga itu, intinya kemaslahatan, baik kemaslahatan pribadi maupun umum. Dan kemaslahatan itu bermula dari kesehatan jasmani dan rohani.

Para Ulama menjelaskan bahwa kemaslahatan itu ada lima hal yang paling pokok. Pertama, al muhaafadhah ‘alad diin (menjaga agama). Menjaga kesucian agama, merupakan modal kesehatan lahir dan bathin. Kedua, almuhaafadhah ‘alaa an nafs (menjaga jiwa). Membunuh orang lain tidak dibenarkan, walaupun atas nama Islam. (QS. An Nisa’ [4] : 93). Yang maknanya : Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.

Ketiga, al muhaafadotu alan nasl (menjaga keturunan). Keempat, al muhaafadhotul alal aql (menjaga akal). Akal juga harus dijaga. Oleh sebab itulah, kemudian minuman keras diharamkan, karena akan mempengaruhi kesehatan akal. Kelima, al muhaafadhotu alal maal (menjaga harta). Hak milik harta memang Allah, tetapi manusia mempunyai hak pinjam sementara. Maka, tidak boleh harta yang sudah dipinjamkan kepada seseorang, kemudian orang lain mengambil tanpa ijin, karena dia juga harus menjaganya dan nanti akan dipertanggung-jawabkannya.

Dalam menjaga kesehatan jasmani dan rohani, maka Rasulullah SAW lah sebagai suri tauladan yang harus kita contoh. Konon, selama hidup Rasulullah SAW hanya sakit dua kali. Yaitu setelah menerima wahyu pertama, ketika itu beliau mengalami ketakutan yang sangat sehingga menimbulkan demam hebat. Yang satunya lagi menjelang beliau wafat. Saat itu beliau mengalami sakit yang sangat parah, hingga akhirnya meninggal. Ada pula yang menyebutkan bahwa Rasul mengalami sakit lebih dari dua kali.

Berapapun jumlahnya dua, tiga atau empat kali, memperjelas bahwa beliau memiliki fisik sehat dan daya tahan luar biasa. Padahal kondisi alam Jazirah Arabia waktu itu terbilang keras, tandus dan kurang bersahabat. Siapapun yang mampu bertahan puluhan tahun dalam kondisi tersebut plus berpuluh kali peperangan yang dijalaninya, pastilah memiliki daya tahan tubuh yang hebat.

Mengapa Rasulullah SAW jarang sakit? Pertanyaan ini menarik untuk dikemukakan. Secara lahiriah, Rasulullah SAW jarang sakit karena mampu mencegah hal-hal yang berpotensi mendatangkan penyakit. Dengan kata lain beliau sangat menekankan aspek pencegahan daripada pengobatan. Jika kita telaah Al-Qur’an dan Al-Sunnah, maka kita akan menemukan sekian banyak petunjuk yang mengarah pada upaya pencegahan. Hal ini mengindikasikan betapa Rasulullah SAW sangat peduli terhadap kesehatan. Ada beberapa kebiasaan positif yang membuat Rasulullah SAW selalu tampil fit dan jarang sakit. Diantaranya :

Pertama, selektif terhadap makanan. Tidak ada makanan yang masuk ke mulut beliau, kecuali makanan tersebut memenuhi syarat halal dan thayyib (baik). Halal berkaitan dengan urusan akhirat, yaitu halal cara mendapatkannya dan halal barangnya. Sedangkan thayyib berkaitan dengan urusan duniawi, seperti baik tidaknya atau bergizi tidaknya makanan yang dikonsumsi. Salah satu makanan kegemaran Rasul adalah madu. Beliau biasa meminum madu yang dicampur air untuk membersihkan air liur dan pencernaan. Rasul bersabda, “Hendaknya kalian menggunakan dua macam obat, yaitu madu dan Al-Qur’an” (HR. Ibnu Majah dan Hakim)

Kedua, tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Aturannya, kapasitas perut dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu sepertiga untuk makanan (zat padat), sepertiga untuk minuman (zat cair), dan sepertiga lagi untuk udara (gas). Beliau bersabda : “Anak Adam tidak memenuhkan suatu tempat yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah bagi mereka beberapa suap yang dapat memfungsikan tubuhnya. Kalau tidak ditemukan jalan lain, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Ketiga, makan dengan tenang, tumaninah, tidak tergesa-gesa, dengan tempo sedang. Apa hikmahnya? Cara makan seperti ini akan menghindarkan tersedak, tergigit, kerja organ pencernaanpun jadi lebih ringan. Makan pun bisa dikunyah dengan lebih baik, sehingga kerja organ pencernaan bisa berjalan sempurna. Makanan yang tidak dikunyah dengan baik akan sulit dicerna. Dalam jangka waktu lama bisa menimbulkan kanker di usus besar.

Keempat, cepat tidur dan cepat bangun. Beliau tidur di awal malam dan bangun pada pertengahan malam kedua. Biasanya, Rasulullah SAW bangun dan bersiwak, lalu berwudhu dan shalat sampai waktu yang diizinkan Allah. Beliau tidak pernah tidur melebihi kebutuhan, namun tidak pula menahan diri untuk tidur sekadar yang diibutuhkan. Penelitian Daniel F Kripke, ahli psikiatri dari Universitas California menarik untuk diungkapkan. Penelitian yang dilakukan di Jepang dan AS selama 6 tahun dengan responden berusia 30-120 tahun mengatakan bahwa orang yang biasa tidur 8 jam sehari memiliki resiko kematian yang lebih cepat. Sangat berlawanan dengan mereka yang biasa tidur 6-7 jam sehari. Nah, Rasulullah SAW biasa tidur selepas Isya untuk kemudian bangun malam. Jadi beliau tidak tidur lebih dari 8 jam.

Cara tidurnya pun sarat makna. Ibnul Qayyim Al Jauziyyah dalam buku Metode Pengobatan Nabi mengungkapkan bahwa Rasul tidur dengan memiringkan tubuh ke kanan, sambil berzikir kepada Allah hingga matanya terasa berat. Terkadang beliau memiringkan badannya ke sebelah kiri sebentar, untuk kemudian kembali ke sebalah kanan. Tidur seperti ini merupakan tidur paling efisien. Pada saat itu makanan berada dalam posisi yang pas dengan lambung sehingga dapat mengendap secara proporsional. Lalu beralih ke sebelah kiri sebentar agar proses pencernaan makanan lebih cepat karena lambung mengarah ke liver, baru kemudian berbalik lagi ke sebelah kanan hingga akhir tidur agar makanan lebih cepat tersuplai dari lambung. Hikmah lainnya, tidur dengan mirik ke kanan menyebabkan beliau lebih mudah bangun untuk shalat malam.

Kelima, istiqamah melakukan puasa sunnat, di luar puasa Ramadhan. Karena itu, kita mengenal beberapa puasa sunnat yang beliau anjurkan, seperti Senin dan Kami, ayyamul bith (Hari putih tgl : 14,15 dan 16 bulan Hijriyah), puasa Daud, puasa enam hari di bulan syawal dsb. Puasa adalah perisai terhadap berbagai macam penyakit jasmani maupun rohani. Pengaruhnya dalam menjaga kesehatan, melebur berbagai ampas bahaya sangat luar biasa. Puasa menjadi obat penenang bagi stamina dan organ tubuh sehingga energinya tetap terjaga. Puasa sangat ampuh untuk detoksifikasi (pembersihan racun) yang sifatnya total dan menyeluruh. Dan selain lima cara hidup sehat ini, masih banyak kebiasaan Rasulullah SAW yang layak kita teladani.

Yang tak kalah penting dari ikhtiar lahir. Rasulullah sangat mantap dalam ibadah ritualnya, khususnya dalam Shalat. Beliau pun memiliki keterampilan paripurna dalam mengelola emosi, pikiran dan hati. Penelitian-penelitian terkini dalam bidang kesehatan membuktikan bahwa kemampuan dalam mengelola hati, pikiran dan perasaan, serta intensif dengan Dzat Yang Maha Tinggi akan menentukan kualitas kesehatan seseorang, jasmani maupun rohani.


Wallahu a’lam

Jumat, 25 Desember 2015

Taat Kepada Allah, Rasulullah dan Ulil Amri

Oleh : DR. H. Abdus Salam Nawawi, M.Ag

Dan Katakanlah : "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (Q.S. Al Kahf [18] :29)

Ayat tersebut menjelaskan, bahwa Allah meletakkan aturan dan menempatkan manusia sebagai figur yang merdeka. Merdeka dalam memilih untuk beriman atau kafir. Suatu pilihan yang menuntut tanggung jawab dan penuh konsekuensi. Dua pilihan ini memiliki dua ruang yang saling bertolak belakang. Beriman itu adalah cerminan sikap taat, sedang kafir itu cerminan dari sikap membangkang. Karenanya, siapa yang memilih iman, maka substansi dari keseluruhan yang dituntut darinya itu adalah taat. (Q.S. An Nisa [4] : 59)

Jumat, 23 Oktober 2015

Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup

Oleh : Drs. H. M. Roziqi, MM - Dakwah Jum'at Al Akbar Edisi 243 | 22 Syawal 1436 H

Setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Kondisi seperti itu merupakan sunnatullah (telah digariskan oleh Allah). Pasang surut kehidupan, kebahagiaan dan kesusaahan, sehat dan sakit, kesuksesan dan kegagalan silih berganti mewarnai perjalanan hidup manusia. Karenanya, janganlah merasa aneh dan kaget jika menemui kondisi demikian. Itulah yang disebut roda kehidupan. Ibnu Athaillah, dalam kitabnya "Al Hikam" mengatakan :

Selasa, 06 Oktober 2015

Dialog “Amalan Substansial”


Oleh DR. KH. A. Musta’in Syafi’e. MAg. Al Hafizh – Dakwah Jum’at Al Akbar Edisi 249 – 24 Dzulhijjah 1436H

Pertanyaan
  • Amalan aoa yang pada zaman sekarang ini bisa diandalkan?
  • Umat Islam mempunyai panduan yang sempurna yaitu Al-Qur’an. Dengan panduan Al-Qur’an tersebut kehidupan dunia akan menjadi baik (Islami), namun kenyataan saat ini kehidupan Negara non muslim justeru lebih Islami disbanding Negara muslim sendiri. Bagaimana menurut Ustadz?


Jawaban

  • Nabi Muhammad adalah utusan Allah untuk menjadi guide (pemandu) bagi umatnya. Seorang guide harus lebih tahu liku-liku tempat yang menjadi tujuan, bahkan segala instrument yang bisa mengantar ke tempat tujuan tersebut. Seperti jasa travel yang tentu dia lebih tahu kondisi tempat tujuan, sehingga bagi konsumen yang akan menggunakan jasa tersebut telah diberitahu segala apa yang dipersiapkan untuk mendukung dan kebutuhan yang diperlukan di tempat tujuan. Seorang yang akan pergi ke akhirat, harus melalui guide nya, karena dialah yang lebih tahu akan persiapan menuju ke sana. Dan akhirat itu, sudah ada taripnya sendiri-sendiri, sehingga surge itu bisa dibooking mulai sekarang (dunia). Maka beruntunglah kepada orang yang kaya, mereka sudah diberi kesempatan Allah untuk membeli surga. Sehingga, menjadi orang kaya, kok sampai tidak masuk surge, berarti sudah keterlaluan. Apa yang disampaikan Rasul, pasti sama dengan yang diinginkan Allah. Dan Allahlah yang lebih tahu tentang akhirat, surge, neraka, dll dan segala yang diperlukan untuk berangkat ke sana.


Amalan andalan seorang muslim tidak harus membutuhkan biaya besar. Masing-masing mempunyai tingkatan tersendiri. Seorang yang menjadi pemangku kebijakan, maka amalan andalannya adalah kebijakan yang adil. Ilmuwan, amal andalannya adalah ilmunya bisa bermanfaat bagi orang lain. Orang kaya, dermawan. Orang miskin adalah doanya mustajabah (di terima) maka peluangnya adalah mengandalkan doanya untuk mendoakan orang lain.

  • Allah sebagai Tuhan semesta alam, merespon semuanya, baik yang beriman maupun yang tidak beriman. Mereka diberi fasilitas dan kesempatan yang sama di dunia. Manusia diciptakan atas kehendak-Nya, maka Dia sangat sayang dan tanggungjawab terhadap segala fasilitasnya. Karena itu, kitab suci yang diturunkan (Al-Qur’an) bukan khusus untuk umat Islam. Jadi, kitab suci Al-Qur’an adalah kitab suci panduan bagi seluruh umat manusia (hudan lin naas). Dan tentu juga panduan khusus kepada orang yang bertaqwa (hudan lil muttaqin). Bedanya, kalau bagi orang bertaqwa bisa memanfaatkan Al-Qur’an universal baik, dunia maupun akhirat, tetapi kalau non muslim, memanfaatkan Al-Qur’an hanya untuk dunia saja. Seorang peneliti di Seoul Korea menugaskan para peneliti yang lain untuk mencari kitab yang berbicara masalah kulit. Tetapi kemudian ditemukan dalam Al-Qur’an yang membicarakan sifat kulit, namun konteknya di neraka (QS. An Nisaa’ [4] : 56).



Bagi umat Islam, ayat ini konteknya dalam rangka umat Islam takut akan masuk neraka, karena siksaan yang begitu menakutkan, agar lebih bertaqwa, sehingga terhindar darinya. Tetapi, bagi non muslim yang ilmuwan, memandang bahwa itu infromasi dari kita suci bahwa kulit itu mempunyai sifat peremajaan. Maka di Korea lah yang sangat maju dalam dunia kulit, sehingga operasi plastic menjamur di mana-mana. Alangkah idealnya jika, umat Islam memanfaatkan kedua-duanya. Pertanyannya, apakah orang yang tidak beriman tersebut mendapat pahala? Jawabannya pasti dibalas oleh Allah sewaktu di dunia, baik itu kehormatannya, kesehatannya ataupun bisnisnya, karena Allah tidak pernah ingkar janji. Tetapi urusan akhirat akan terbentur dengan paspor iman.

Jumat, 02 Oktober 2015

AMALAN SUBSTANSIAL


Oleh DR. KH. A. Musta’in Syafi’e. MAg. Al Hafizh – Dakwah Jum’at Al Akbar Edisi 249 – 24 Dzulhijjah 1436H

Allah berfirman dalam surah Al-Insaan [76] : 1 yang maknanya : Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang Dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Ayat ini seolah menyindir agar umat manusia kembali melihat dirinya. Sesungguhnya sebelum kita ada di dunia ini dulu kita ada di mana? Al-Qur’an memberi isyarat, bahwa manusia itu sebelumnya tidak pernah disebut, kemudian ada. Lalu oleh Al-Qur’an diingatkan, tentu ada tujuan yang sangat besar. Kesementaraan manusia berada di dunia ini, bisa dibandingkan dengan sesuatu di luar manusia itu sendiri. Perabot rumah tangga yang berada di rumah, lebih lama mendiami di dunia ini dibanding manusia. Untuk itu, orang tidak perlu membicarakan awal mulanya. Justeru agama menekankan bagaimana akhirnya. Tidak dipersoalkan kita lahir dari siapa, kiai, ustadz, orang miskin, orang kaya, bahkan anak pezina sekalipun, tidak dipersoalkan, tetapi yang dipersoalkan adalah akhir hayatnya, membawa keimanan atau tidak. Sehingga, tidak ada jaminan seorang kita mati dalam khusnul khatimah. Namun, amalan-amalan kita yang kontinyu, yang mengarah kepada kebajikan, itulah yang menuntun kita khusnul khatimah menghadap kepada-Nya.

Untuk itu, dibutuhkan kecerdasan dalam amal. Sehingga seorang muslim dituntut untuk beramal substansial, tidak tergoda dengan amalan-amalan formalitas belaka. Studi Al-Qur’an pernah bertanya, kenapa surah perdana, Al-Alaq, justeru turunnya di Goa Hira’. Kenapa Allah tidak menurunkan surah perdana di tempat yang ramai, tempat yang menjadi sentral manusia berkumpul seperti di Ka’bah. Padahal umumnya kita, jika akan launching sebuah produk atau sebuah komunitas, pasti memilih tempat-tempat yang glamour, biar lebih cepat dikenal oleh masyarakat. Peran substansial membuktikan bahwa di samping memang sudah taqdir Allah, jika kita mencoba menalarnya, ternyata di Goa Hira’ itulah tempat Rasulullah SAW berikhtiar untuk mendownload hidayah dari Allah, melalui riyadhah. Itu bisa diartikan bahwa hidayah, prestasi keimanan, amalan-amalan itu bukan ditunggu, tetapi diikhtiari.

Salah satu godaan orang dalam hal mengumpulkan prestasi amal-amal yang baik, jangan sampai terjebak pada seremoni atau formalistik, yang sangat rawan berpotensi riya’. Syarat orang beramal yang pertama adalah niat, walaupun sudah berusaha niat dengan ikhlas, tetapi belum selesai sampai di situ saja, karena di tengah mengerjakan itu syetan hadir dengan khannas (timbul tenggelam), ditiup kemudian dibiarkan dst. Unsur riya’ sedikit saja akan menghilangkan amal substansial. Sebagai contoh, yang menjadi tren sekarang adalah orang bershalawat di mana-mana. Para Habib turun mengumandangkan shalawat di mana-mana. Maka, syetan hadir, benarkah mereka shalawat atau hanya show dalam shalawat. Pedomannya adalah bahwa bershalawat itu harus dalam keadaan hudhuur (hatinya hadir) kepada Rasulullah SAW. Kalau kita menyuguhi minuman kepada seorang kiai, tentu dengan adab yang sangat sopan, tidak mungkin dengan cengengesan. Jadi, hakekat membaca shalawat yang substansial, yaitu mengahturkan shalawat kepada Rasulullah SAW dengan penuh khusyu’. Jika unsur musik, unsur cengengesan lebih dominasi dibanding unsur hudhuurnya, maka artinya bernyanyilah lebih banyak dari pada bershalawat.

Ketika istighatsah digelar untuk memohon kepada Allah, yang dilambangkan seperti orang yang mengerjakan shalat istisqa’, sehingga yang hadir harus menggunakan tsiyaabul fadhlah (pakaian sederhana), bahkan sebelumnya diusahakan untuk puasa dahulu. Dalam majelis itu seluruhnya khusyu’ memohon kepada Allah untuk segera diberi air hujan. Istighatsah seharusnya seperti itu, namun akhir-akhir ini menjadi ajang tersendiri, yakni digunakan untuk pementasan para pejabat di hadapan rakyatnya. Sangat disayangkan, padahal sebagaimana firman Allah dalam surah Al Anfaal [9] : 9.
Siapapun yang secara bersama-sama memohon kepada Allah, dengan cara yang bagus,maka Allah akan mengabulkannya. Artinya jika ada kelompok orang yang melakukan istighatsah kemudian tidak mendapat ijabah, maka perlu dipertanyakan apakah mereka melakukan itu hanya substansial ataukah hanya formalistik.

Bulan lalu, jamiyah NU bermuktamar, dan dalam waktu bersamaan Muhammadiyah juga bermuktamar, dan hampir bersamaan pula MUI juga bermusyawarah besar. Namun semuanya tidak ada yang mengangkat masalah tentang “pengentasan kemiskinan” menjadi rekomendasi utama mereka. Yang ada hanya Islam Nusantara, Islam berkemajuan, Peradaban, dll. Padahal substansi keagamaan menurut surah Al Maauun [107] , pendusta agama itu bukanlah mereka yang malas melakukan shalat, tetapi mereka yang terdepan, orang yang menjadi pendusta agama adalah orang yang tidak mempunyai kepedulian sosial. Sementara, ahli ekonomi menghitung biaya ke Makkah yang digunakan umat Islam untuk umrah dan haji dalam satu tahun sekitar 170 triliun. Artinya Islam mengedepankan, bahwa amal substansial yang bisa bermanfaat bagi orang lain lebih dilihat oleh Allah dibanding dengan bermanfaat bagi diri sendiri.

Terakhir, sebaiknya seorang muslim mempunyai amal andalan. Artinya seorang muslim hendaknya ibadahnya tidak hanya rutinitas saja tetapi harus mempunyai amal yang diyakini dalam diri kita sendiri bahwa amal itulah yang berpotensi bisa menghantarkan kita masuk surga dengan amalan itu.

Jumat, 03 Juli 2015

Makna Sholat, Historis dan Filosofis


oleh Prof. DR. H. Burhan Jamaluddin, MA dalam Dakwah Jum'at Al Akbar Surabaya Edisi 233 | 10 Sya'ban 1436H / 29 Mei 2015

Secara Historis, Shalat yang pertama kali yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW dan pengikutnya pada saat di Makkah adalah shalat malam (QS. Al Muzammil [73] : 1-4), maknanya : 1. Hai orang yang berselimut (Muhammad). 2. Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya) 3. (yaitu) seperdunya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. 4. atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan.

Jumat, 10 April 2015

PETUNJUK RASULULLAH TENTANG ALAM KUBUR


Oleh : Dr. H. Zainuddin MZ, M.Ag dalam Dakwah Jum'at Al Akbar Surabaya

Alangkah nikmatnya mengikuti bimbingan Rasulullah SAW dalam setiap langkah kehidupan. Termasuk mengikuti bimbingan beliau adalah selalu mengingatkan akan alam kubur. Beliau dengan tegas menjelaskan : Udzkuruu khaatimal ladzaat yakni al maut (Ingat-ingatlah adanya pamungkas adanya kenikmatan hidup ini, yakni datangnya kematian). Andaikan kita selalu ingat mati,

Senin, 02 Maret 2015

Tanya Jawab "Fleksibilitas Dalam Hukum Islam"

oleh Prof. Dr. H. Ahmad Faishol Haq, M.Ag


Pertanyaan : 

1. Sebagaimana yang Prof. Jelaskan dalam khutbah tadi, bahwa Nabi SAW memberi tuntunan kepada para imam agar meringankan shalat, karena jamaah yang berbeda kepentingan dan kondisinya. Bagaimana dengan fenomena shalat tarawih yang ada di kampung-kampung yang seakan-akan berlomba cepat selesai?

2. Tadi dijelaskan bahwa, dalam menimba ilmu bisa membaca sendiri kalau mampu, bisa mengikuti pengajian-pengajian, bisa juga dengan bertanya. Dalam kesempatan ini saya ingin bertanya untuk memperoleh ilmu tersebut. Saya pernah membaca dalam ilmu Al-Qur'an ada istilah nasikh mansukh. Mohon dijelaskan?

3. Bagaimana fleksibilitas ajaran Islam dalam memilih pemimpin?

Jawaban :

1. Di dalam shalat ada rukun-rukun yang tidak boleh di tinggalkan, jika di tinggalkan , walaupun salah satu, maka shalatnya tidak sah. Sementara rukun shalat ada 17, diantaranya harus tuma'ninah. Tuma'ninah adalah berhenti sebentar seukuran membaca سُبْحَانَ اللّهُ. Jika kurang dari bacaan itu, maka belum tuma'ninah namanya, sehingga tidak sah. Jika ada imam yang seperti itu, maka kita yang sudah tau wajib mengingatkan. Karena Islam mempunya sistem tawaashoubil hal (nasehat menasehati agar mentaati kebenaran). (Q.S. Al-Ashr : 3). Maknanya : "1. Demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. 3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran."

2. Allah berfirman dalam surah al Baqarah : 106. Maknanya : "106. Ayat mana saja yang kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datang kan yang lebih baik dari padanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Ketika turun surah al Baqarah : 240, berkenaan dengan iddahnya perempuan yang di tinggal wafat suaminya, iddahnya sebanyak satu tahun. Ayat tersebut adalah maknanya : 
"240. Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma'ruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Setelah berjalan beberapa saat, iddah satu tahun bagi janda yang di tinggal wafat suaminya dianggap oleh Allah kurang maslahat. Karena kalau harus menunggu satu tahun, terlalu lama, kemudian Allah turunkan lagi surah al Baqarah ayat 234. Maknanya : "234. Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma'ruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

3. Memilih pemimpin dalam Islam itu ukuran nya adalah memilih yang seagama. Allah berfirman dalam surah an Nisa' : 144. Maknanya : "144. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)."

Selanjutnya, dalam memilih pemimpin harus yang ahli. Rasulullah SAW bersabda : idzaa wusidal amru mi ghairi ahlihaa fantadhiris saa'ah (apabila menyerahkan perkara tidak pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya). Misalnya sebuah jam tangan yang rusak, jika diperbaiki oleh tukang service jam, maka akan bisa baik, tetapi kalau diserahkan tukang batu, tidak bisa dibayangkan jadinya.
Wallahu a'lam

Jumat, 27 Februari 2015

FELKSIBILITAS DALAM HUKUM ISLAM


oleh Prof. Dr. H. Ahmad Faishol Haq, M.Ag dalam Dakwah Jum'at Al Akbar Surabaya

Allah berfirman dalam surah Thaha [20] : 2-3

مَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ لِتَشْقَىٰٓ 
(Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah)

إِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَن يَخْشَىٰ
(tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)

Dari keterangan ayat tersebut, menjelaskan bagi kita, bahwa Islam itu tidak kaku, tetapi Islam itu fleksibel. Bahkan ada yang mengatakan kalau hukum Islam itu bisa berubah, karena ada perubahan waktu, tempat dan keadaan. Ulama' Ushul Fiqih membuat sebuah kaidah : taghyyurul ahkaam, bitaghayyuril azminati wal amkinati wal ahwaal (perubahan hukum dalam Islam disebabkan karena ada perubahan waktu, tempat dan keadaan). Ketika Rasulullah SAW masih hidup, ada sahabat yang bernama Imron bin Husain. Dia menderita penyakit ambeien, hingga anusnya terus mengeluarkan darah. Lalu bertanya kepada Rasulullah SAW : Ya Rasul, bagaimana shalat saya dengan kondisi sakit yang saya derita ini?
Rasulullah SAW memberi opsi :
Shalatlah kamu dengan berdiri. Jika kamu berdiri tidak mampu, (bahkan kalau terlalu lama bisa mengeluarkan darah), maka boleh melakukan shalat dengan duduk.

Makanya dalam melakukan shalat jamaah, imam tidak boleh membaca surat teralu panjang. Karena jamaahnya bermacam-macam dengan kondisi dan keperluan yang berbeda pula. Rasulullah SAW bersabda :
idzaa 'amma ahadukum fal yukhaffif, faina fiihaa suyuukh, wa maridhun, wa dzuu haajatin, waidzaa sholla linafsihi fal yuthawwil maa syaa'a (jika kalian menjadi imam, maka ringankanlah (bacaannya), karena boleh jadi di dalam jamaah itu ada orang yang sudah tua, dan kemungkinan ada orang yang sedang sakit, dan ada juga yang mempunyai keperluan. Dan bila shalat sendiri, maka silahkan memperpanjang bacaannya sesuai yang diinginkan).
Sehingga, menurut riwayat Imam Syafi'i menghatamkan al-Qur'an 30 juz dalam dua rakaat shalat Tahajjud.

Orang yang bepergian jauh, tentu capek badannya, penat pikirannya, mungkin juga keluar banyak duitnya. Maka, Islam memberi keringanan kepada mereka yang bepergian untuk meringkas (qashar) shalat dan menjama' (melakukan dua shalat dalam satu waktu). Sebagaimana dijelaskan dalam surah an-Nisa' : 101. Yang maknanya : "Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu meng-Qashar sembahyang(mu), jika kamu takut di serang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu".

Begitu juga dalam ibadah lain mesti ada keringanan bagi orang tertentu yang tidak bisa melakukan dengan sempurna, seperti puasa Ramadhan. Dijelaskan dalam surah al-Baqarah : 183-184. 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

(Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa)

أَيَّامًا مَّعْدُودَٰتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُۥ ۚ وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

((yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui)

Keringanan yang diberikan Allah dalam melakukan kewajiban, ada kalanya dengan mengganti hari seperti puasa yang diganti dengan hari yang lain. Ada dengan meringkasnya seperti menjama' dan mengqashar shalat, ada pula yang dibebaskan sama sekali seperti orang yang sudah tua yang tidak kuat lagi melakukannya. Itulah ajaran Islam itu harus dipelajari dan dikaji hingga tidak terbatas oleh waktu. Kalau mampu silahkan mempelajari sendiri, tetapi kalau tidak, silahkan datang ke majelis-majelis ta'lim, atau bertanya pada ahlinya. Karena ilmu sumbernya dari tiga hal itu.

Sehingga, dalam Islam itu seluruh masalah yang ada, ada jalan keluarnya, dan jalan keluar itu mesti kemudahan. Allah berfirman dalam surah al-Baqarah : 185, maknanya : "...... Allah menghendaki kemudahan bagi mu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur".

Sumber : Dakwah Jum'at Al Akbar Surabaya Edisi 210
Text Al Qur'an : Muslim Pro

Senin, 23 Februari 2015

Tanya Jawab "Refleksi di tahun baru"

oleh KH. Abdusshomad Buchori

Pertanyaan :

Bayu, Pasuruan. Dalam merayakan tahun baru yang biasa muncul adalah kebudayaan yang tidak sejalan dengan ajaran Islam. Salah satunya yang terjadi kemarin di Taman Bungkul Surabaya, merayakan dengan doa bersama dengan menggunakan lilin. Bagaimana menyikapi kejadian seperti itu, agar umat Islam tidak terjerumus ke dalam hal yang dilarang agama?

Roihul Pasaribu, Medan. Dalam kehidupan sekarang berbagai macam godaan iman silih berganti. Misalnya di daerah asal saya, ada adat kebudayaan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, namun jika kita tidak mengikuti maka, akan dikucilkan. Bagaimana kiat agar iman tetap konsisten (istiqamah) dalam setiap keadaan?

Jawaban :

1. Dalam menyikapi kebudayaan yang selalu ada dan terus berkembang dalam masyarakat, ada kaidah Islam yang bisa menjadi dasar pijakan dalam bersikap, yakni al ‘aadah muhakkamah maa lam tukhalif fisy syar’a (adat istiadat bisa diterima jika tidak bertentangan dengan syariat). Kalau doa bersama dengan menyalakan lilin bukan kebudayaan Islam, maka jangan diikuti. Kalau itu yang melakukan pemerintah, maka harus diingatkan. Doa bersama hukumnya haram. Ada orang non muslim berdoa, maka kita sebagai muslim tidak boleh mengamini, karena akidah kita beda. MUI Jawa Timur mengeluarkan fatwa, mengucapkan “selamat natal” kepada non muslim hukumnya haram, karena sudah menyangkut persoalan ideology (akidah) bukan lagi menyangkut kemanusiaan. Bukan masalah kerukunan, tetapi karena agama tidak boleh dicampur aduk. Istilah yang trend sekarang pencampuradukan agama disebut dengan pluralisme agama.

2. Masalah adat kebudayaan mana yang boleh mana yang tidak, sudah dijelaskan di jawaban pertama. Selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam, boleh. Jika bertentangan dengan ajaran Islam, maka haram hukumnya mengikuti. Namun jika itu terjadi di lingkungan anda, maka harus pandai-pandai memilah dan memilih, agar tidak terjadi benturan. Harus bijaksana dalam bersikap. Saya kira kalau kita tegas dan bijaksana, insyaa Allah mereka juga akan faham. Dan sebagai seorang muslim sebenarnya anda juga punya kewajiban untuk merubah adat kebudayaan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam itu. Sesuai ajaran Nabi, untuk merubah suatu kemungkaran itu pertama dengan tangan, bisa di artikan dengan kekuasaan, jika tidak mampu, maka dengan perkataan yang baik, dan bijaksana, kalau keduanya tidak mampu, maka menolaknya dengan hati, walaupun itu tingkatan paling rendah. Memang untuk menguatkan iman selalu akan diuji sesuai tingkatannya. Ujian keimanan ini untuk menjadi iman kuat. Jadi, semakin kuat iman, maka ujian akan semakin berat pula. Anggaplah apa yang terjadi di lingkungan anda itu sebagai ujian iman anda. Walaupun dengan itu anda dikucilkan, namun anda harus tetap baik kepada mereka. Mungkin dengan membaca buku-buku kisah perjalanan Nabi, atau para ulama-ulama, imam-imam tersohor dalam berdakwah dan mempertahankan imannya. Dengan begitu anda akan termotivasi.
Adapun upaya agar iman tetap konsisten, maka berusahalah ibadah dengan tekun. Shalat lima waktu dijaga, dan jangan sampai ada yang terlupakan. Tetangga yang sakit, dibantu. Ada orang tidak mampu, maka jangan segan-segan untuk membantu, hal ini untuk menjaga hubungan dengan lingkungan. Selalu membaca Al-Qur’an. Bergaul dengan orang-orang yang baik. Shalat malam diusahakan istiqamah. Ada baiknya anda simak firman Allah pada surah Al-Baqarah : 177. Yang maknanya : “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang yang bertakwa.


Wallahu a’lam bishawaab

Selasa, 10 Februari 2015

Tanya Jawab "Berhati-hati dengan tipu daya dunia"


oleh KH. Ahmad Thoha, MA

Pertanyaan :
Dalam hal keduniaan, umat islam selalu kalah dibandingkan dengan umat lain. Padahal kita ketahui bahwa dunia adalah ladangnya akhirat, artinya kita tidak boleh memandang sebelah mata dengan kehidupan dunia ini. Bagaimana cara menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat?

Jawaban :
Untuk menjaga keseimbangan dalam hidup dunia dan akhirat caranya adalah dengan bersikap zuhud. Banyak orang salah memahami makna zuhud. Mayoritas memahaminya dengan tarkud dunya (meninggalkan kehidupan dunia).

Rasulullah SAW bersabda : izhad fid dunya, yuhibukallah, wayuhibbun naas.
(Berzuhudlah kamu di dunia, niscaya kamu akan dicintai Allah dan manusia).

Saya teringat , ketika seorang ulama' besar di Makkah, Syeh Amiin Al Khutbi, memaknai zuhud adalah qillatur raghbah (mengurangi keinginan). Karena kalau terlalu banyak keinginan, kemudian tidak kesampaian, maka akan merasa kecewa. Hakekat harta adalah sebuah amanah, titipan Allah kepada manusia. Yang akan dipertanggungjawabkan perolehannya dan penggunaannya nanti di akhirat. Ketika kita lahir tidak membawa apa-apa dan akan meninggal dunia, juga tidak akan membawa apa-apa.

Makna zuhud menurut Imam al Jauzi, faarighul qalbi laa faarighulnyad (kosong di hati, tetapi tidak kosong di tangan). Saya teringan teman yang tempat tinggalnya di pesisir. Dia bekerja sebagai nelayan dan mempunyai pondok kecil dengan beberapa santri. Pada saat liburan santrinya yang dari kota pulang. Setelah pamit ke ustadz nya, santri ini dititipi surat oleh ustadznya untuk diberikan ustadznya yang tinggal di kota. Dalam hati santri itu menebak, kalau ustadznya yang ada di pesisir itu saja hidupnya pas-pasan, mungkin ustadznya yang di kota pasti lebih miskin. Tetapi, tebakan santri tersebut keliru, karena setelah ketemu alamat yang dituju, dia melihat rumah yang mewah lagi megah. Sangat kontras dengan ustadz dia yang ada di pesisir tersebut. Setelah menerima surat tersebut. ustadz itu membalas surat tersebut dan dititipkan kembali kepada santri tersebut. Setelah kembali lagi ke pondok yang ada di pesisir, santri tersebut memberikan surat balasan kepada ustadznya. Setelah membaca surat tersebut, si ustadz itu menangis, seperti ada penyesalan dalam dirinya. Karena merasa heran, santri tersebut memberanikan diri untuk bertanya, kenapa ustadz menangis setelah membaca surat dari ustadz beliau yang di kota. Ustadz tersebut menjelaskan bahwa ustadznya yang di kota itu memperingatkan dan menasihati agar di zuhud. Dia bertanya "sampai kapan kamu masih cinta dunia". Mendengar penjelasan itu, santri ini malah bertambah heran, bukankah ustadznya ustadz yang ada di kota itu jauh lebih kaya dari ustadz? Apa tidak terbalik, ustadz beliau yang di kota itu justru cinta dunia, karena rumahnya sangat megah. Benar, karena ikhtiarku untuk mencari harta selama ini, masuk di dalam hati. Ini yang membuat ibadahku kurang khusyu' karena terus kepikiran mencari harta dunia. Beda dengan ustadzku yang ada di kota, dia mempunyai harta banyak, tetapi tidak sampai di hati, hanya di tangan saja. Artinya, kalau harta itu datang, tidak membuatnya sombong, kalau suatu saat hilang dari tangannya, tidak membuatnya sedih. Karena hati beliau sudah di tata dan di camkan dalam hatinya, bahwa harta itu hakekat nya hanya titipan Allah. Semakin banyak harta, justeru semakin banyak hal yang harus di pertanggungjawabkan nanti di akhirat. Wallahu a'lam.

Maka, sesorang muslim dipersilahkan untuk kaya. Islam mendorong pemeluknya untuk mempunya harta kekayaan. Banyak ajaran Islam yang bisa menjadi dasar, bahwa seorang muslim harus kaya. Misalnya, ada perintah al yadul ulya khairum nin yadis suflaa (tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah). Seorang muslim diwajibkan menunaikan ibadah haji, diwajibkan shalat, diwajibkan membayar zakat, dlsb. Bagaimana bisa tangan di atas kalau tetap miskin? Bagaimana berangkat haji kalau tidak punya sarana untuk berangkat ke tanah suci? Bagaimana bisa shalat kalau tidak punya sarana untuk menutup aurat? Bagaimana bisa bayar zakat kalau tidak punya harta? Sehingga, kekayaan bisa mengantarkan surga, jika bisa mengelolanya dengan baik, sebaliknya harta juga bisa mengantarkan ke neraka jika tidak bisa mengelola dengan baik pula.

Kamis, 05 Februari 2015

BERHATI-HATI DENGAN TIPU DAYA DUNIA


oleh KH. Ahmad Thoha, MA

Kehidupan di dunia ini oleh Allah sengaja dijadikan indah agar menarik perhatian manusia dan Allah hendak menguji diantara mereka yang pandai memanfaatkannya dengan baik dan melestarikannya agar dapat diturun-temurunkan kepada generasi berikutnya. 
(Q.S Al Kahfi [18] : 7)

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

(Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya).

Nabi SAW bersabda : Dunia sangat indah, manis dan memikat hati, semua itu oleh Allah diserahkan kepada kalian sebagai ujian, bagaimana cara kalian mengelola dan memanfaatkannya. Karena itu, berhati-hati lah terhadap dunia dan terhadap wanita.

Dari firman Allah dan Hadis Nabi tadi, tidak dapat diragukan dan disangkal akan keindahan dunia dan alam ini. Keindahan yang oleh Allah dijadikan batu ujian bagi kita semua. Agamapun berpesan berhati-hatilah kalian mengelolanya, karena dunia berikut segala isinya, kekayaan dan keindahannya diserahkan kepada kita semua untuk kita manfaatkan dengan baik dan kita tidak boleh menyia-nyiakannya apalagi menyelewengkan dan menyalahgunakannya.

Dunia ini diciptakan oleh Allah sebagai jembatan menuju negeri akhirat. Pesan Nabi "berhati-hati lah terhadap dunia" , artinya berhati-hatilah menyikapi dan memandangnya. Kehidupan dunia hanyalah sementara waktu, tidak untuk selamanya dan tidak kekal abadi. Lain halnya dengan kehidupan Akhirat, ia adalah kehidupan yang sebenarnya dan kekal abadi. (Q,S Al Mukmin [40] : 39, Al Ankabut [29] : 64, Ali Imran [2] : 152).

Ada di antara umat manusia yang berlebih mendambakan dan mencintai kehidupan dunia dan ada sebagian lain mengutamakan kehidupan akhirat. Padahal kehidupan ini harus selaras dan seimbang antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. 
(Q.S Al Qashash [28] : 77)

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

(Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan).

Kita tidak boleh menjauhi dunia apalagi memusuhi dan mencercanya, karena jalan dunia adalah jalan Akhirat. Keduanya tidak terpisahkan, tidak ada jalan khusus ke akhirat kecuali lewat jalan dunia.

Kehidupan dunia adalah perjuangan (jihad) untuk meraih kesejahteraan lahir dan batin, dunia dan akhirat. Hidup bukan hanya untuk sekarang, tetapi berlanjut sampai akhirat. Dan apa yang diperoleh di akhirat nanti diukur dengan apa yang telah dilakukan di dunia. Kehidupan dunia sangat berarti dan bahkan sangat berharga. Inilah jalan hidup yang benar. Nabi SAW bersabda : Bukan sebaik-baik kamu siapa yang mengabaikan dunianya demi akhiratnya dan bukan sebagus-bagus kamu siapa yang melalaikan akhiratnya demi dunianya. Tetapi sebaik-baik kamu adalah siapa yang memperhatikan keduanya (dunia-akhirat). Ada diantara umat manusia yang tertipu dan terperdaya oleh gemerlapan dunia dan Allah telah memberi peringatan kepada mereka. (Q.S Al Hadid [57] : 20).

Allah hendak menggambarkan 5 hal terpenting kesenangan dalam pandangan orang-orang yang lengah, tertipu dan terperdaya :

Pertama, la'ibun (main-main). Hidup mereka hanya main-main.
Kedua, lahwun (senda gurau). Mereka hanya hura-hura dan pesta pora.
Ketiga, ziinah (cinta perhiasan). Mereka hanya mengejar materi dan kekayaan harta benda.
Keempat, tafaakhur (bermegah-megahan)
Kelima, takaatsur (berbangga-bangga dengan harta dan anak).

Ternyata semua kesenangan orang-orang yang lalai, lengah dan tertipu adalah mataa'ul ghuruur (kesenangan yang menipu). Orang yang demikian itu, pantaslah kelak di akhirat sebagai calon penghuni neraka jahannam. (Q.S An Naazi'aat [79] : 37).

Sebagian manusia ada yang dihinggapi penyakit hubbuddunya (cinta dunia). Yakni seluruh fikiran dan keinginannya hanya ditujukan untuk kesenangan dunia semata. Orang seperti ini, kalau sedang berkuasa niscaya menumpuk kekayaan dengan cara korupsi. Kalau ia miskin, niscaya akan melakukan judi. Kalau ia kaya, maka niscaya dia akan rakus dan tak tahu diri. Kalau berkata niscaya akan berdusta, kalau memagang amanah niscaya ia sia-siakan. Orang seperti ini sangat mengidolakan Qarun  (Q.S Al Qashash [28] : 79).

Pada suatu petang hari Abu Ubaidah Amin bin Jarrah r.a. tiba di Bahrain membawa harta hasil upeti. Karena hari sudah jauh malam, keesokan harinya setelah shalat Shubuh, Rasulullah SAW setelah berdzikir dan berdoa kemudian berbalik menghadap jamaah Ahli Suffah yang dalam kondisi miskin, lalu beliau bersabda : Saya kira, kalian telah mendengar tentang Abu Ubaidah datang dengan membawa harta dari Bahrain? "Betul ya Rasulullah" Sahut mereka serentak. Lalu Rasulullah SAW bersabda lagi : Akan aku penuhi kebutuhan kalian. Demi Allah tidaklah kemiskinan dan kefakiran yang paling aku takutkan atas diri kalian, tapi yang paling aku takutkan atas kalian adalah kalau dunia yang melimpah ini telah dibukakan atau kalian dapat yang Allah berikan kepada orang-orang dahulu. Kalian akan menjadi serakah dan berambisi seperti mereka, lalu kalian akan dibinasakan Allah seperti halnya mereka orang-orang dahulu yang telah dibinasakanNya. Begitulah syetan menjerumuskan manusia dengan keserakahan dan ambisi.

(Q.S Al Baqarah [2] :268)

ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

(Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui).

Sumber Dakwah Jum'at Al Akbar Surabaya Edisi 215
Text Al Qur'an : Muslim Pro